Seruan perdamaian Suriah dalam pesan Natal Paus

Paus Benediktus
Image caption Paus Benediktus melambaikan tangan kepada para umat usai menyampaikan pesan Natal.

Kekerasan di Suriah akibat konflik politik yang berkepanjangan di negara itu menjadi salah satu tema dalam pesan Natal Paus Benediktus XVI, Selasa 25 Desember, yang dikenal dengan Urbi et Orbi.

Di hadapan ribuan jemaat yang berkumpul di halaman Gereja Santo Peter di Vatikan, Paus meminta agar semua pihak yang terlibat melakukan dialog, seperti dilaporkan warawan BBC di Roma, David Willey.

"Saya menyerukan diakhirinya pertumpahan darah, akses yang lebih baik untuk bantuan bagi pengungsi dan mereka yang terlantar dari rumahnya," tutur Paus.

"Semoga damai bersemi bagi rakyat Suriah, yang terluka dalam dan terpecah karena konflik yang tidak mengecualikan kaum yang lemah dan merenggut korban yang tidak bersalah."

Para aktivis memperkirakan sekitar 40.000 orang tewas akibat konfilk di Suriah antara pemerintah pimpinan Presiden Bashar al-Assad dan kelompok perlawanan yang marak sejak awal 2011.

Kepemimpinan Cina

Selain krisis Suriah, Paus mendoakan kekerasan di Nigeria yang disebutnya sebagai 'tindakan terorisme biadab' yang sering menjadikan umat Kristen sebagai sasaran.

Pemimpin umat Katolik ini juga mendesak kepemimpinan Cina yang baru untuk menghormati peranan agama dalam menciptakan 'masyarakat persaudaraan'.

Konflik Timur Tengah termasuk dalam masalah yang diangkat Paus, yang mendoakan Israel dan Palestina megakhiri konflik berkepanjangan dan menuju jalan perundingan.

Urbi et Orbi yang artinya untuk kota dan dunia merupakan tradisi dalam perayaan Natal umat Katolik dan disiarkan secara langsung ke sejumlah negara.

Misa malam Natal, Senin 24 Desember -yang biasanya berlangsung tengah malam- untuk tahun ini dimajukan dua jam agar Paus yang berusia 85 tahun tidak terlalu lelah.

Berita terkait